soul, torture, and suffer

it's mine, it's my life, it's not yours

Avenged Sevenfold

My Inspiration

Synyster Gates

God bless us

Viva La Loving

Our life

System of a Down

Life is Music

Tampilkan postingan dengan label avenged sevenfold. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label avenged sevenfold. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Januari 2014

Review pribadi album Hail to the King (2013) Avenged Sevenfold


Band asal California yang (menurut saya) beraliran melodic metal, Avenged Sevenfold kembali melempar album di tahun 2013 lalu, sebuah album yang diharapkan memuaskan rasa penasaran dan dahaga para penggemarnya, setelah menunggu hampir 3 tahun semenjak meluncurnya album Nightmare pada 2010 silam. Bagaimana tidak, fans tentu sangat penasaran dengan album yang secara resmi dirilis pada 27 Agustus 2013 ini karena inilah album pertama A7x (akronim dari nama band) bersama drummer baru mereka, Arin Ilejay (eks drumer Confide), sepeninggal Jimmy Owen Sullivan yang telah berpulang.
Saya hanya akan menuliskan review pribadi mengenai abum ini, terutama dalam posisi saya sebagai salah satu orang yang (juga) penasaran, serta fans yang menunggu penggalan-penggalan lirik yang memikat.



1.     Shepherd of Fire (5:25)
Album studio keenam A7x dibuka dengan satu trek berjudul Shepherd of Fire. Lagu dibuka dengan suara lonceng tua yang membuat kesan ‘gelap’ dan horor sangat terasa. Riff-riff gitar dari Synyster Gater mengemuka, seperti biasa, ciri khasnya yang memakai efek distorsi berat dan gahar mengisi lagu ini. Ketukan drum dari Arin terasa telah menyatu dengan karakter A7x dalam lagu ini, orisinil dan ada detil-detil ketukan yang unik. Sebuah lagu pembuka yang sangat menarik.
Now you know I am your pride..Agent of wealth..Bearer of needs” (4.2/5)

2.     Hail to the King (5:05)
Lagu yang merupakan hit single dari album ini sekaligus dijadikan judul album, lagu ini dilepas ke publik beberapa waktu sebelum albumnya rilis. Lagu dibuka dengan melodi gitar dari Syn, disusul ketukan drum yang simpel dan background rhytm dari permainan Zacky Vengeance. Ada yang unik dalam lagu ini, Syn memainkan melodi terus menerus hingga akhir lagu, nyaris tanpa jeda permainan power chord. Di sisi lain, irama drum di lagu ini sangat monoton, walaupun dapat dipahami, hal ini untuk mengimbangi permainan gitar Syn. Bagi saya pribadi, yang menyimak hit single terlebih dahulu sebelum mendengarkan keseluruhan album, lagu ini (dalam posisinya sebagai hit single) sedikit dibawah ekspektasi.
Death is riding into town with armor, they've come to take all your rights” (3.9/5)

3.     Doing Time (3:30)
Lagu dengan durasi paling pendek di album Hail to the King ini dibuka dengan monolog dari M. Shadow (lengkap dengan tawa khasnya), mirip dengan lagu Bat Country. Lagu yang cukup ‘bertenaga’ dan bersemangat. Di trek ketiga ini, selama 3,5 menit kita akan disuguhi lagu dengan tempo cepat, mirip dengan verse awal lagu Unbound. Lagu akan terasa sangat singkat dengan tempo seperti ini.
I got enough on my mind..Sell your soul for approval and a dollar”  (4/5)

4.     This Means War (6:04)
Beranjak ke trek ke empat, lagu dengan durasi cukup panjang.  Trek yang cukup memuaskan, dengan ketukan drum yang orisinil, namun tak melenceng dari karakter yang dibangun A7x sebelumnya. Hampir serupa dengan lagu Hail to the king, judul lagu menjadi penggalan lirik yang diulang2 pada bagian reffrain tanpa kesan membosankan. Karakter vokal M. Shadow sangat terasa di lagu ini, ia mampu menyuarakan ‘kemarahannya’ dengan nyaris sempurna pada beberapa bagian lagu.
There's nothing here for free..Lost who I wanna be” (4.1/5)

5.     Requiem (4:43)
Seperti judulnya, sepertinya mereka ingin menumpahkan kesan horor di lagu ini. Pengucapan kata-kata di awal dan tengah lagu mengingatkan pada Rise of the Pentagram-nya Cradle of Filth. Beranjak menuju menit ke 3, sentuhan gothic cukup terasa di lagu ini, dengan backing vocal yang terkesan ‘kelam’. Saya berharap lagu berakhir di menit ketiga saja, karena selebihnya antiklimaks.
I walk stricken, pitch black vision..Oh One, save me, caress my weary eyes” (3.5/5)

6.     Crimson Day (5:00)
Mendengar petikan gitar pada intro, saya rasa semua setuju ada aroma ballad di lagu ini. Seperti ‘fase istirahat’ telinga setelah dihajar di 5 lagu sebelumnya, namun jangan salah, dengan tempo lebih pelan, sebuah lagu bisa lebih ‘berasa’. Lagu yang dibangun dengan scale minor ini terasa begitu sendu, ditambah efek background string keyboard, semakin sedihlah suasana. Perpaduan antara gitar dan vokal terdengar begitu apik di lagu ini.
I've come so far to meet you here..to share this life with one I hold so dear” (4.5/5)

7.     Heretic (4:53)
Siap-siaplah, fase istirahat sudah selesai, telinga anda kembali akan dihajar dengan distorsi-distorsi seperti sediakala. Dimulai dengan Fade in riff gitar singkat sebagai pengantar menuju ketukan yang lebih rapat. Walaupun tidak sekeras trek-trek awal album, namun double drum bass yang terkesan mencuri-curi cukuplah sebagai pengangkat semangat setelah ber-ballad-ria. Ada sentuhan country rhytm di pertengahan lagu, dengan sentuhan gitar akustik yang tidak begitu keras.
“No trial, no case for reason..I been chosen to pay with my life” (3.8/5)

8.     Coming Home (6:22)
Menuju trek kedelapan, kita akan disuguhi pemilihan ‘warna’  instrumen yang cerdas pada awal lagu, pelan namun saling mengisi dengan sempurna. Lagu beranjak menjadi cepat dan rapat memasuki verse dan reffrain. Jika diamati lebih dalam, dentuman bass Johny Christ sangat terasa di lagu ini.
I've looked to gods in the skies..I've stood in hell..where many had to suffer”  (4/5)

9.     Planets (5:56)
Dibuka dengan dentuman-dentuman drum yang mantap, terkesan kita akan disuguhi ketukan drum yang bertenaga sepanjang lagu. Dan benar saja, terlebih pada reffrain, sedikit ada kesamaa dengan pola drum reffrain lagu Nightmare, dengan double drum bass yang bersahut-sahutan plus vokal yang menggeram. Sentuhan-sentuhan khas power chord kedua gitaris sangat kentara dari hingga akhir lagu.
You will be forgotten like the others lost in time..dead civilization left behind” (3.9/5)

10. Acid Rain (6:41)
Menuju trek ke 10, atau lagu terakhir dalam album (bila tanpa bonus track), suasana sedih terasa begitu kental sejak introduction mengalun. Jangan berharap permainan Syn dan Zacky menggila pada lagu ini, karena mereka lebih banyak ‘bersantai’ di lagu ini, terlepas dari Melodi-melodi minor yang coba disisipkan pada pergantian-pergantian fase lagu, namun hal itu ditutupi dengan permainan keyboard manis hingga pertengahan. Sebuah lagu yang bisa dikatakan mellow, namun sangat menyentuh hati, dibawakan dengan penjiwaan total.
There's no death, no end of time, when I'm facing it with you” (4.2/5)

11. St. James [bonus track] (5:01)
Trek ini merupakan bonus yang disertakan A7x dalam sebuah paket penjualan album. Secara keseluruhan tidak ada yang khas pada lagu ini, cukup mewakili karakteristik permainan masing-masing personil, terdengar santai dan easy listening. Namun, hal inilah yang membuat lagu ini terasa berbeda, tiap-tiap fase mengalun dengan harmonisasi tingkat tinggi. Dari pembukaan yang memperdengarkan suasana dalam bar/cafe, lengkap dengan suara percakapan yang bersahutan dan suara air dituang dalam gelas. Bonus track yang tidak seharusnya hanya sekedar menjadi “bonus”.
Some times our saints are sinners,They blur the lines and lead the way” (4.5/5)

Secara umum, masing-masing trek dalam album ini terasa memuaskan, dengan karakter yang berbeda dalam tiap-tiap lagunya, 59 menit yang akan terasa singkat jika menyimak 11 lagu diatas. Terlepas dari itu semua, acungan jempol patut dialamatkan pada Arin Ilejay sebagai personil anyar. Ia mampu ‘mengimbangi’ karakter yang melekat pada A7x, walaupun bagi saya pribadi, dalam beberapa lagu, Ia masih kurang maksimal dan belum mengeluarkan kemampuannya secara total. Overall, sebuah album yang bisa dikatakan cerdas telah dihasilkan A7x, menunjukkan perkembangan kedewasaan mereka dalam kualitas musik, dan menancapkan taring eksistensi mereka dalam industri musik dunia. (4.4/5)




Sumber: pengalaman dan penilaian pribadi

Senin, 06 Januari 2014

Diskografi Avenged Sevenfold

Discography (Studio Album)
Sounding the Seventh Trumpet (2001)


1. To End the Rapture
2. Turn the Other Way
3. Darkness Surrounding
4. The Art of Subconscious Illusion
5. We Come Out at Night
6. Lips of Deceit
7. Warmness on the Soul
8. An Epic of Time Wasted
9. Breaking Their Hold 
10. Forgotten Faces 
11. Thick and Thin 
12. Streets 
13. Shattered by Broken Dreams 


Waking the Fallen (2003)
1. Waking the Fallen
2. Unholy Confessions
3. Chapter Four
4. Remenissions
5. Desecrate Through Reverence
6. Eternal Rest
7. Second Heartbeat
8. Radiant Eclipse
9. I Won't See You Tonight (Part 1)
10. I Won't See You Tonight (Part 2)
11. Clairvoyant Disease
12. And All Things Will End 


City of Evil (2005)
1. Beast and the Harlot
2. Burn It Down
3. Blinded in Chains
4. Bat Country
5. Trashed and Scattered
6. Seize the Day
7. Sidewinder
8. The Wicked End
9. Strength of the World
10. Betrayed
11. M.I.A. 


Self Titled (Avenged Sevenfold) (2007)
1. Critical Acclaim
2. Almost Easy
3. Scream
4. Afterlife
5. Gunslinger
6. Unbound (The Wild Ride)
7. Brompton Cocktail
8. Lost
9. A Little Piece of Heaven
10. Dear God
11. Almost Easy (Jam-Along version; iTunes bonus track)
12. Bat Country (Live at Hammerstein Ballroom; iTunes pre-order bonus track)
13. Crossroads (B-side; MVI exclusive)
14. Almost Easy (Live; Japanese bonus track)


Nightmare (2010)
1. Nightmare
2. Welcome to the Family
3. Danger Line
4. Buried Alive
5. Natural Born Killer
6. So Far Away
7. God Hates Us
8. Victim
9. Tonight the World Dies
10. Fiction
11. Save Me
12. Lost It All (iTunes deluxe edition bonus track)
13. Nightmare (Demo) (Limited edition Book of Nightmares bonus track)


Hail to the King (2013)
1. Shepherd Of Fire
2. Hail To The King
3. Doing Time
4. This Means War
5. Requiem
6. Crimson Day
7. Heretic
8. Coming Home
9. Planets
10. Acid Rain
11. St. James

Biografi singkat Avenged Sevenfold

Avenged Sevenfold dibentuk pada tahun 1999 di Huntington Beach, California dengan anggota asli M. Shadows, Zacky Vengeance, The Rev (Jimmy Owen Sullivan) dan Matt Wendt. Merkea memberi nama band berdasarkan cerita Cain dan Abel dari Bibel (kitab). Saat pembentukannya, masing-masing anggota band ini memakai nama samaran yang juga merupakan nama panggilan mereka saat bersekolah di Sekolah Menegah Atas. Sebelum merilis album debut mereka, band ini merekam dua demo pada tahun 1999 dan 2000.


Avenged Sevenfold merilis album mereka City of Evil tepatnya pada tanggal 8 Juni, 2005. Hits single Bat Country merupakan lagu metal/rock pertama yang merajai MTV TRL. Mereka mempopulerkan kembali solo gitar dengan duet gitaris Synyster Gates dan Zacky Vengeance yang benar-benar memanaskan area moshpit. Album tersebut mendapat sertifikat gold dan memenangkan predikat Best New Artist in a Video di MTV VMA 2006 untuk lagu Bat Country.


Album pertama mereka, Sounding the Seventh Trumpet, direkam ketika para anggota band masih berumur delapan belas tahun dan juga masih bersekolah di sekolah menengah atas. Album ini pada awalnya dirilis oleh perusahaan label pertama mereka, Good Life Record pada tahun 2001. Setelah Synyster Gates bergabung  pada akhir 1999, Lagu "To End the Rapture" direkam ulang oleh personil yang utuh. Album ini kemudian dirilis ulang pada Hopeless Records pada tahun 2002. Setelah bassis keempat mereka, Johnny Christ bergabung secara permanen, mereka merilis album Waking the Fallen di Hopeless Records pada  Agustus 2003. Band menerima pengakuan oleh Billboard dan The Boston Globe, dan juga bermain di "Vans Warped Tour". Pada tahun 2004, Avenged Sevenfold mengadakan tur kembali di "Vans Warped Tour" dan merekam video untuk lagu "Unholy Confessions " yang masuk tangga lagu di MTV2's Headbanger's Ball. Tak lama setelah merilis Waking the Fallen, Avenged Sevenfold meninggalkan Hopeless Records dan menandatangani kontrak yang diajukan oleh Warner Bros.



Tahun 2007, mereka kembali masuk studio untuk merekam lagu terbaru mereka untuk studio album ke-5 mereka yang bertajuk Avenged Sevenfold. Awal Agustus 2007, mereka menjalani tur Asia Pasifik mereka, dan sempat mampir di Indonesia dan memainkan lagu mereka pertama kali di depan publik. Lagu yang berjudul Almost Easy tersebut mendapat sambutan hangat dari penggemar di seluruh dunia.

Keberhasilan Avenged Sevenfold membuat mereka diundang dalam sebuah acara bertajuk Ozzfest di panggung utama, disejajarkan dengan band Metal lain yang telah terkenal lebih dulu, seperti Dragonforce, Lacuna Coil, Hatebreed, Disturbed, dan System of a Down. Pada tahun yang sama mereka juga menyelesaikan tur di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat, Britania Raya (serta daratan Eropa), Jepang, Australia dan Selandia Baru.

Masa-masa kelam A7x dimulai. Pada tanggal 28 Desember 2009 drummer James”The Rev”Sullivan ditemukan meninggal di rumahnya pada umur 28 tahun. Hasi otopsi tidak dapat disimpulkan. Namun tanggal 9 juni 2010 diumumkan bahwa penyebab kematiannya adalah keracunan akibat penggunaan piskotropika yang dicampur – campur, sering juga disebut polydrug use atau “cross fading”. Dalam pernyataan dari anggota band lainnya, mereka turut berbela sungkawa atas meninggalnya The Rev dan meminta untuk menghormati privasi keluarganya:
It is with great sadness and heavy hearts that we tell you of the passing today of Jimmy “The Rev” Sullivan. Jimmy was not only one of the world’s best drummers, but more importantly he was our best friend and brother. Our thoughts and prayers go out to Jimmy’s family and we hope that you will respect their privacy during this difficult time.
Website resmi Avenged Sevenfold menampilkan pesan dari keluarga Sullivan yang menyatakan terima kasih kepada penggemarnya atas dukungan mereka:
“We would like to thank all of Jimmy’s fans for the heartfelt comments that have been posted – it is comforting to know that his genius and antics were appreciated and that he was loved so much. Our hearts are broken – he was much too young to fall. Óg agus saor go deo (forever young and free)”
Di samping itu komentar tentang kematian Sullivan, manajer band Larry Jacobson mengungkapkan bagaimana Sullivan adalah orang yang begitu baik terhadap semua orang. Jacobson berkata dalam wawancara itu:
He was expressive. He’d tell you how he felt about you — you didn’t wonder because he’d put his arm around you,” he said. “He knew how to tell his friends he loved them.
Selain Jacobson ada 50 lebih artis musik yang mengomentari tentang kematian The Rev. Pada tanggal 6 Januari 2010 jenazah di makamkan di lokasi yang dirahasiakan. Tanggal 5 Januari 2010,majalah kerrang! menulis artikel tentang kematian The Rev.Zacky Vegeance menunjukan perasaannya tentang kematian The Rev
Jimmy will always be with me in everything I do. Except sitting at home being sad, so today Im going to try to start living again. foREVer.” R.I.P The Rev

Pada 17 Februari 2010 Avenged Sevenfold menyatakan bahwa mereka telah memasuki studio, bersama dengan drummer Dream TheaterMike Portnoy untuk take drum (yang pada akhirnya mike portnoy keluar dari Dream Theater).Dalam rangka tour album Nightmare, Avenged Sevenfold kembali menghubungi Mike Portnoy yang pada saat itu telah menyelesaikan tour bersama Dream Theater untuk membantu mereka sebagai touring drummer. Kerjasama yang dijalin selama beberapa bulan ini berakhir pada akhir tahun 2010 sesuai dengan perjanjian yang sebelumnya telah dibuat bersama.


Pada Januari 2011, Avenged Sevenfold yang akan memulai tour kembali mencari drummer untuk membantu mereka. Teknisi drum The Rev mengusulkan seorang mantan drummer band metalcore Confide bernama Arin Ilejay. Dalam uji coba yang dijalaninya, Arin memberikan performa yang mengejutkan seluruh personil Avenged Sevenfold sehingga ia kemudian dipilih untuk menggantikan Mike Portnoy sebagai touring drummer sampai saat ini.

Di tahun 2013 lalu, avenged sevenfold kembali menelurkan album mereka yang bertajuk Hail to the King. Berisi 10 lagu plus 1 bonus track, hit single mereka yang dijadikan nama album cukup meledak di pasaran. Untuk rekaman album ini, telah sepenuhnya digarap bersama drummer 'baru', Arin Illejay.

Tentang genre yang diusung, banyak pihak yang mengutarakan perbedaan pendapat. Pada awal kemunculan band ini (album pertama), lagu-lagu mereka bernafaskan metalcore, dengan warna vokal yang menggeram dan beat, permainan gitar yang penuh distorsi, serta ketukan drum yang rapat. Namun hal itu berubah seiring perjalanan karir a7x. Terlebih pada penggarapan album self titled dan seterusnya, kematangan bermusik mereka semakin terlihat tanpa meninggalkan ciri khas pada lagu-lagunya. Vokal yang berat, melody gitar yang nyaris mengisi setiap bait lagu, serta ketukan drum yang unik telah menjadi patron avenged sevenfold dalam menciptakan karya-karya besar.